Menu Tutup

Persaingan Usaha di Indonesia Semakin Ketat

Kios pesaingan usaha sepi

Teknologi Informasi mengubah dunia menjadi lebih dinamis. Siapa yang tidak tanggap, maka ia akan tersisih. Di dunia bisnis ekonomi, pelaku usaha harus benar-benar jeli melihat peluang dan harus berpikir untuk menang dalam persaingan usaha yang telah bertahan bertahun-tahun.

“ya allah usaha bakso ku lagi sepi..buat belanja nombok setiap hari nya..udh kehabisan modal buat dagang lagi..ambisi buat usaha tinggi .modal sudah habis..saran dong teman teman” tulis keluhan seorang pedagang bakso di grup sosial media wira usaha.

Itu adalah salah satu keluhan yang sering kali terdengar saat ini. Bahkan saat kami nongkrong di sebuah warung, kami melihat raut wajah lesu dua pria sedang berdiskusi soal bisnis mereka. Sedangkan satu lagi orang datang dan berkata “tidak hanya usaha kuliner, dagangan opo wae, nang di wae saiki lagi sepi, piye jal kiye…”

Bagaimana dengan data neraca perdagangan Indonesia?

Setelah dibayangi defisit selama beberapa bulan terakhir, akhirnya neraca perdagangan Indonesia pada September 2018 surplus. Hal itu terungkap dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis hari ini (15/10).

Dilansir dari situs Setkab.go.id, Kepala BPS, Suhariyanto mengungkapkan, nilai transaksi perdagangan pada September 2018 itu mencatat surplus US$227 juta.

Menurut Suhariyanto, nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari–September 2018 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 26,39 persen, 22,06 persen, dan 27,86 persen. (idntimes.com)

Mungkin tidak ada masalah saat ini bagi pebisnis besar. Namun bagi usaha kecil dan menengah perlu berpikir lebih dalam lagi. Pasalnya, beberapa faktor yang menyebabkan sepinya pembeli diantaranya:

1. Industri produksi (pabrik) langsung jual ritel

Tradisinya, pabrik hanya memproduksi kemudian didistribusikan ke agen, lalu agen menjualnya ke pengecer. Barulah pengecer (retail) ke konsumen. Namun saat ini telah banyak pabrik-pabrik besar menjual produknya secara langsung ke konsumen. Itu artinya agen kehilangan kesempatan untuk mendapatkan profit, dan apalah daya pengecer.

Hal ini sudah berjalan beberapa tahun yang lalu, kami mengetahui sendiri bagaimana pabrik menjual ecer dan kami punya banyak relasi yang bekerja di beberapa pabrik di Tangerang.

Salah satu karyawan pabrik juga bercerita, selain bekerja di tempat tersebut, ia juga menjual produk dengan harga yang sangat miring. Yup, harga pabrik.

Jadi inilah faktor pertama mengapa pemilik toko atau penjual ritel semakin hari banyak yang mengalami penurunan penjualan: karena mereka telah dilompati pengusaha besar.

2. Daya beli masyarakat menurun

Bisa dibilang, ya. Namun lebih tepatnya, deflasi. BPS mencatat bahwa perkembangan indeks harga konsumen (IHK/inflasi) selama dua kali berturut-turut mengalami deflasi.

Deflasi terjadi berturut-turut Agustus dan September 2018, masing-masing sebesar 0,05% dan 0,18%. Apakah deflasi tersebut menandakan daya beli orang Indonesia lemah.

Untuk itu, pemerintah mengumumkan adanya kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2019 sebesar 8,03 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap kenaikan UMP tersebut berpengaruh terhadap penguatan daya beli masyarakat.

3. Pergeseran gaya hidup belanja offline ke online

Sudah tidak bisa dihindari lagi, ini adalah era teknologi informasi. Semakin banyak konsumen bergeser untuk pembelian secara online, terlebih kaum millennial.

4. Semakin banyaknya orang yang “coba-coba” berbisnis

Terkait juga dengan era informasi saat ini. Ketika orang sedang sibuk bekerja, jenuh dengan rutinitas, mereka melihat di Youtube, televisi, majalah, dan lain-lain, banyak sekali konten wira usaha yang bebas tidak terikat waktu. Saat itulah, para pekerja tersebut seakan-akan mereka terinspirasi untuk menjadi entrepreneur. Nah, mereka mencoba berbisnis, tapi terkadang tak sedikit dari mereka yang mulai berbisnis dengan cara banting harga, asal barang laku, untung dikit gapapa yang penting senang. Namun ini akan merusak ekosistem dunia usaha.

5. Perang harga

Banyak sekali usaha yang menjamur, atau istilah sekarang “viral”, sekali terlihat bagus, yang lainnya ikut-ikutan. Ini mendorong pada persaingan usaha yang semakin ketat.

Tidak ada yang salah dalam persaingan, lumrah saja sebuah usaha ada kompetitor. Tapi yang jadi masalah, bagaimana cara mereka memenangi persaingan? ujung-ujungnya perang harga. Hanya pemilik modal besarlah yang mampu bertahan dalam waktu yang lama. Sedangkan modal pas-pasan, siap-siap gulung tikar.

6. Faktor X

Spiritual – tidak logis, tapi ya begitulah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *