Papan Iklan Reklame Seharusnya Kuat dan Tidak Membahayakan

Bebearapa waktu yang lalu, sebuah papan iklan atau reklame roboh yang ada di Ramanda, Depok, Kamis 19/1.

Seperti dilansir dari Poskota News, baliho ukuran besar di gedung Ramandha persis di pertigaan Jalan Raya Arief Rahman Hakim dan Jalan Raya Margonda roboh sekitar pukul 15:00 dikarekan angin kencang.

“Angin begitu kencang sehingga papan reklame atau baleho di gedung Ramanda yang menjadi pusat penjualan onderdil atau suku cadang kendaraan di Kota Depok nyaris roboh,” kata Harry Waskito, pemilik toko di Ramanda, Depok, yang sempat melihat robohnya papan reklame tersebut.

Menurut dia, kemungkinan besar papan reklame itu sudah lapuk atau kropos sehingga tak kuat menahan angin sehingga nyaris roboh ke bawah. “Beruntung tak langsung roboh ke bawah karena di bawah terdapat kendaraan warga yang ingin belanja,” ujarnya sehingga papan reklame masih tersangkut di atas.

Hal senada dikatakan, Ny. Ruly, warga yang melintas di Jalan Raya Arief Rachman Hakim, yang sangat menyayangkan terjadinya kerusakan papan reklame yang nyaris roboh ke bawah.

“Harus di cek semua papan reklame atau baleho yang sudah tua,” ujarnya yang menambahkan diduga banyak baleho atau papan reklame yang sudah usang dan tua tapi belum dibongkar.

Jadi, bagi Anda yang ingin memasang papan iklan reklame, baliho, atau billboard untuk mempromosikan produk, perlu diperhatikan aspek dari segi kualitas konstruksi dan layout itu sendiri.

Bisnis Modern: Membodohi Kaum Facebooker

Belakangan ini marak sekali informasi yang tidak jelas, terutama di facebook. Kenapa facebook? kok nggak twitter atau Linkedin? mungkin Anda semua sudah tahu bahwa facebook tidak hanya digunakan oleh kalangan yang melek teknologi saja, sebagian besar warga memiliki facebook mulai dari kalangan bos properti sampai penjual pecelele yang tersebar di seluruh Indonesia.

Namun sayangnya, keberadaan sosial media sebagai target utama ‘pembodohan’ bisnis modern yang dilakukan oknum-oknum tertentu. Masih banyak orang yang memanfaatkan psikologi pengguna facebook, misalnya ‘katakan amin’ (baca selengkapnya: Saatnya Membongkar Bisnis Kotor Memanfaatkan Facebook )

Ini memang tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di Amerika, Facebook dan pendirinya Mark Zuckerberg menjadi sorotan lantaran berita hoax tersebar di berbagai post di facebook, seperti di fans page, grup dan timeline orang-orang yang berpengaruh.

berita-palsu

“Walau persentase informasi hoax terbilang kecil, kami memang memiliki banyak pekerjaan di depan dalam roadmap kami” kata Mark Zuckerberg.

Bisnis modern dengan cara yang kotor dengan membodohi kaum facebooker yang ‘polos’, itu masih mending. Namun akan lebih berbahaya jika oknum menyebarkan berita hoax hanya untuk meperkaya dirinya sendiri. Dan yang paling dikhawatirkan adalah oknum yang memiliki tujuan memecah belah.

Apakah pemerintah diam saja? tidak, beberapa waktu yang lalu, Pemerintah telah memblokir beberapa situs radikal yang berisi hasutan. Namun tetap saja, masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh oknum baik untuk mendulang recehan dollar maupun untuk kendaraan politik.

Satu-satunya cara untuk menangkal informasi yang tidak jelas adalah ‘menjadi pribadi yang cerdas’. Beri tahu dan sosialisasikan ke keluarga, teman terdekat, dan orang-orang disekitar mana berita yang benar dan mana berita yang benar-benar akurat.

Sosial media seperti facebook sebenarnya memiliki banyak sekali manfaat yang bisa diambil, berjuta-juta inspirasi dan ide untuk kemajuan. Namun itu semua tergantung orang yang berada dibalik username dan password alias pemilik akun facebook tersebut.

Aksi Damai

Damailah Indonesiaku.

aksi-damai
Kalo yang belum pernah ikut demo, pasti gak tau apa itu yg putih-putih dibawah kantong mata. Itu adalah pasta gigi non-gel, atau pasta gigi biasa. Uap pasta gigi yg mengandung menthol atau mint, akan menghasilkan semacam perisai pada lapisan bola mata,sehingga pada saat ada gas air mata, maka lapisan ini akan melindungi bolamata sehingga tidak perih. Cara ini tidak sengaja ditemukan oleh mahasiswa yg ber demo thn 1998, dan ternyata ditiru juga oleh petugas anti huru hara. Dan di luar negeri, juga ada ygmenggunakan teknik ini. Selain odol, bisa diganti dgn balsem, tetapi terlalu panas untuk mata dan kulit. – Anang Rafli
aksi-damai-2
Aksi Damai 2
aksi-damai3
Aksi Damai 3
aksi-damai4
Aksi Damai 4
aksi-damai6
Aksi Damai 5
aksi-damai7
Aksi Damai 6

Punya Akun atau Email Yahoo, Ganti Password Anda Sekarang

Informasi ini hanya untuk mengingatkan Anda yang mempunyai akun atau email di yahoo. Jika akun Anda masih dianggap penting untuk saat ini atau di masa mendatang, sebaiknya ganti password Anda sekarang.

Bukan tanpa alasan, beberapa waktu yang lalu, Yahoo kecolongan, database mereka dicuri oleh hacker dan sebanyak 500 juta akun tidak dapat dilindungi dengan baik oleh Yahoo.

Mungkin akun Anda akan kena dampak dari kejadian ini. Jika Anda ragu untuk menggunakan akun Yahoo, hapus saja.

yahoo-hapus

Daily Mail: Even people who haven’t used their Yahoo accounts in a long time should make sure it’s deleted.

Masih Ditemui Rasis di Australia dan Menyerang Anak-anak

Rasisme tidak dapat diterima secara luas, karena memiliki konsekuensi negatif. Tentunya akan mempengaruhi perkembangan anak-anak di dunia dimana mereka tinggal.

Sebagai contoh kasus, beberapa waktu yang lalu, tiga gadis kecil diserang oleh sekumpulan pemuda saat mereka bermain di taman lokal Melbourne, Victoria, Australia.

lindungi-anak-anak

Ketiga bocah perempuan, lima belas, dua belas dan yang termuda berusia sepuluh tahun, diserang oleh sepuluh pemuda, dengan alasan kelompok tersebut tak suka melihat mereka dengan latar belakang yang berbeda bermain di sebuah taman.

Selain menyerang secara fisik, anak-anak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh kelompok pemuda; “kembali ke negaramu!” dan “F***”.

Anak-anak ini merupakan keturunan Afganistan yang telah menetap di Australia. Salah satu dari mereka dirobek hijabnya dan dicubit lehernya, serta si pemuda menyebutnya sebagai “poo”

poo

Sebenarnya, anak-anak tidak diam begitu saja. Mereka mencoba mengeluarkan ponsel untuk meminta bantuan, namun apalah daya, justru ponsel tersebut dirusak.

Sempat bernafas lega, beberapa orang datang dalam peristiwa itu. Namun, bukan untuk menolong, melainkan ikut-ikutan menekan dan juga mengatakan “kembali ke negaramu!”.

Sementara Pihak kepolisian Victoria menyebutkan serangan itu sebagai hal yang “memuakkan”

Serangan ini merupakan realisasi yang jelas dari kebencian yang diwarisi oleh orang tua mereka di usia yang tampaknya pernah semakin menerima rasis dan supremist ideologi.

Gadis-gadis ini telah menderita konsekuensi dunia nyata, dehumanisasi pengungsi dan prevalensi.

Kehidupan yang tidak mudah bagi anak-anak Muslim global di negara-negara liberal. Keluarga-keluarga ini lolos perang Afghanistan, namun keluar dari sana hanya untuk dibully oleh anak-anak rasis di taman Geelong.

OnlyAustraliaNet menyebutkan, mereka harus bisa dan harus lebih baik dari ini.

“Kita perlu belajar untuk menerima orang lain sehingga anak-anak kita dapat belajar hal-hal yang baik dari kami. Tidak belajar bagaimana menyerang ras asing di jalan karena mereka memakai jilbab.” tulisnya.

Bisa Anda lihat videonya.

Mariana Tak Kenal Lelah Kenalkan Batik Papua

Umurnya sudah tidak muda lagi, terlihat kulit Mariana yang mulai keriput dan rambutnya yang sudah berwarna putih. Semangat yang dimiliki wanita bernama lengkap Mariana Hibopulandan ini tetap kuat, ia menawarkan batik motif Papua kepada pengunjung pada pameran yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia pada 26-27 Agustus 2016.

batik papua mariana

Seperti dilansir dari laman Bisniscom, Mariana memiliki usaha kecil batik tulis dengan motif asli yang dibuatnya dan diproduksi melalui guratan tangan mama-mama lainnya. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti miliknya tengah menjadi sorotan pemerintah sebagai potensi untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi.

Namun, usaha Mariana bukan tanpa kendala. Lokasi usahanya yang berada di Sentani, Jayapura itu mengharuskannya mengambil bahan kain, pewarna, dan peralatan dari Jawa. Itu saja sudah memakan biaya Rp40 juta. Sementara, usahanya masih mengandalkan pesanan dari konsumen dan belum mampu diekspor ke pulau atau negara lain.

Belum lagi saingan batik serupa tapi berasal dari Jawa. Batik-batik asal Jawa dengan motif Papua dan diproduksi massal itu jelas memiliki harga lebih murah dan kualitas lebih bagus. Lantas, dia tak bisa menjual batik-batiknya dengan harga mahal.

“Rp75.000 untuk satu meter. Untung tipis, orang Papua rasa macam terlalu mahal. Di Papua banyak batik printing, mereka jual di sana murah,” katanya.

Berawal dari pelatihan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat, dia memberanikan diri untuk merilis usahanya dengan sisa bahan dari pelatihan. Kemudian, bank daerah dan bank milik pemerintah membantu kegiatannya melalui kredit.

Mariana juga pernah mengalami kerugian guna memenuhi permintaan dari Sorong dan Timika. Dia tak bisa membebankan biaya pengiriman pesawat ke konsumen. Alasannya tak lain dia tidak ingin kehilangan pembeli karena banyak saingannya yang berusaha meniru motif batiknya.

“Hampir seluruh Papua pesan, tapi kami rugi dua kali. Macam pesan dari Sorong, kami harus selesaikan kirim lagi ke Sorong, biaya juga. Kirim ke Timika juga dengan pesawat,” ucapnya.

Pameran dibuka oleh Umi Mufidah Jusuf Kalla. Mengangkat tema ‘Warisan’ (Wasiat Agung Negeri Nusantara) karena mengandung makna yang mendalam. Batik sebagai produk seni budaya peninggalan leluhur merupakan legacy of nation dan identitas bangsa yang harus dilestarikan bersama.

Jakarta Diprediksi Banjir Sampai Bulan Maret 2017

banjir jakarta

Hampir memasuki bulan September, tapi hujan masih saja melanda berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPNP), Sutopo Purwo Nugroho menghimbau kepada warga Jakarta untuk waspada adanya kemungkinan banjir di ibu kota. Menurutnya, fenomena La Nina efek selama hujan meningkat. Bahkan, curah hujan yang lebih besar akan terjadi selama musim hujan. Hal tersebut dapat meningkatkan potensi banjir di Jakarta.

“Hujan deras diperkirakan berlangsung November 2016 sampai Maret 2017,” kata Sutopo dilansir dari laman Tempo.com pada 27 Agustus 2016.

banjir jakarta

Hujan lebat di akhir bulan Agustus membuat sejumlah wilayah di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur terendam banjir. Menurut Sutopo, banjir juga disebabkan oleh saluran drainase yang tidak mampu menampung dan aliran sungai.

“Hujan dengan intensitas tinggi sering menyebabkan banjir dan genangan di Jakarta,” tambah Sutopo.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jakarta, banjir merendam 39 RW di 15 desa dan delapan kecamatan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Banjir memiliki dampak langsung pada sebanyak 10 538 rumah tangga atau 31 622 orang.

“Namun, tidak satupun dari mereka mengungsi akibat banjir,” katanya.

Banjir regional di Jakarta Selatan meliputi Kecamatan Kebayoran Baru, Cilandak, Cipete Selatan, Pasar Minggu, Mampang Prapatan, dan Guest House. Sementara di banjir Jakarta Timur berada di Pasar Rebo, Ciracas, dan Kramat Jati.

Petogogan Kelurahan, Kecamatan Kebayoran Baru menjadi daerah terparah. 90-100 sentimeter air setinggi rendam 39 3 RW RT di wilayah tersebut.

“Banyak rumah dan kendaraan terjebak oleh banjir,” katanya.

Sementara, banjir setinggi 40-100 sentimeter merendam tiga desa, sembilan RW dan 54 RT di Desa Pondok Labu, Cipete Selatan dan Gandaria Selatan.

Banjir tinggi di Kelurahan Gandaria Selatan mencampai 70-100 sentimeter. Begitu juga dengan banjir di distrik yang mencakup Kecamatan Pasar Minggu yang meiputi kelurahan Jatipadang dan Ragunan.

“Kendaraan yang nekat menerobos jalan akhirnya mogok di jalan,” katanya.

Sutopo mengatakan bahwa banjir telah surut. Selain merendam rumah, kemacetan di berbagai jalan muncul sebagai akibat dari bencana ini.

“Pusdalops BPBD DKI Jakarta masih melakukan pendataan banjir,” pungkasnya.

Earth Hour di “Malam Langit Gelap” dengan Miliaran Bintang

Earth Hour yang biasanya dilakukan pada pukul 20.00 WIB sampai 21.00 WIB dihimbau oleh Ahli astronomi dan astrofisika sekaligus Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin dilakukan pada hari Sabtu (malam Minggu) 6 Agustus 2016. Sebab di malam tersebut, masyarakat diharapkan untuk ikut serta dalam kampanye ‘Malam Langit Gelap’ untuk menyaksikan langit gelap dengan miliaran bintang bertaburan di angkasa.

Galaxy Bima Sakti

Ajakan ini bukan tanpa alasan, karena Galaksi Bima Sakti dengan ratusan miliar bintang akan terlihat jelas di langit, mulai membentang dari utara ke selatan. Untuk itu, dengan cara mematikan lampu paling tidak satu jam, maka polusi cahaya akan jauh berkurang. Masyarakat bisa menonton keindahan langit di malam hari, yang tidak akan terlihat di malam-malam lainnya.

“Kita bisa melihat rasi Angsa (Cygnus) di langit utara dengan Segitiga Musim Panas (Summer Triangle), tiga bintang terang di sekitar rasi Angsa: Vega, Deneb, dan Altair. Di langit selatan kita bisa melihat rasi Layang-layang atau Salib Selatan (Crux) yang sering digunakan sebagai penunjuk arah Selatan. Hampir di atas kepala kita dapat menyaksikan rasi Kalajengking (Scorpio) dengan bintang terang Antares,” tulis Thomas seperti dikutip dari akun Facebooknya, Selasa (2/8).

“Mematikan lampu luar selama satu jam, juga sekaligus mengkampanyekan hemat energi seperti Earth Hour. Pada Sabtu, 6 Agustus 2016, saat malam tanpa bulan, kita juga bisa menyaksikan planet merah Mars dan planet bercincin Saturnus bersanding dengan bintang raksasa merah Antares,” tutupnya.

Hasil tangkapan foto kami 1 Agustus 2016

Milky Way sudah terlihat sejak awal Agustus, dan mungkin akan jauh lebih bagus lagi pada tanggal 6 Agustus 2016.

foto milky way agustus 2016

 

 

Reaksi Berlebihan Masyarakat Soal “Bule Rusia Menggelandang”

Sejak hari Selasa 26/7 warga ibu kota diramaikan dengan informasi mengenai dua orang warga negara Rusia yang dikatakan tak bisa pulang ke kampung halamannya alias menggelandang. Sosial media dengan cepat menyebarkan rumor ke publik, bahkan turut membawa nama Kedutaan Besar Rusia di Jakarta.

Informasi awal

Sebuah berita dari merahputih.com – Dua turis Rusia, Dimitrii Abdugafarov dan Aleksandra Kolesnikova terpaksa menggelandang di Jakarta akibat kecurian saat melakukan penelitian di Papua. Keduanya—laki-laki dan perempuan— berhasil ke Jakarta dari Papua setelah mendapat bantuan.

Kedua bule yang menggelandang di Jakarta, tepatnya depan Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, ramai menjadi perbincangan di media sosial. Berita keduanya menyebar setelah akun Facebook bernama Iqbal Hendarawan membagikan beberapa foto keduanya tengah duduk sambil mengamen.

“Ini gw bingung mau bantu gimana, jadi ada bule Rusia kata mereka kehilangan pasport dokumen penting dll di Papua,” kata Iqbal dalam keterangan fotonya.

Iqbal juga menceritakan bahwa mereka minta bantuan dengan mengamen di depan Stasiun Sudirman. Sementarai dari Papua ke Jakarta, kedua bule itu mengatakan mendapat bantuan di sana. “Bawa ke kedutaan besarnya aja apa gimana nih? Atau ada yang bisa nolongin? Sekarang posisinya lagi di depan Stasiun Sudirman deket Dukuh Atas.”

Kedua warga asing ini dalam foto tampak menjadi perhatian para pelintas. Sang perempuan terlihat membawa ukulele untuk mengamen. Di depan keduanya terdapat tulisan, tampaknya tulisan ini buatan orang lain yang ingin membantu.

foto gembel bule
Bule Rusia di depan Stasiun Sudirman (Foto: Facebook/Iqbal Hendrawan)

 

“Hallo! Kami mengalami kehilangan tas akibat dicuri seseorang di Papua (passport, uang, kartu, handphone). Kami membutuhkan bantuan dalam bentuk uang untuk membeli tiket pulang,” demikian dicatata di atas kertas kardus di hadapan kedua warga asing itu.

Kemudian akun Iqbal tadi menginformasikan lagi bahwa saat ini keduanya telah ditolong sesorang dan kini tinggal di Kayu Manis, Jakarta Timur. “Lagi minta alamat lengkapnya di mana supaya bisa jenguk (lagi nunggu balesan). Kata mereka kedutaannya bilang paspornya baru jadi 3 bulan lagi dan visanya abis tgl 12 Agustus ini.”

Klarifikasi

Selanjutnya, website indonesia.rbth.com menjelaskan kronologi sebenarnya di lapangan. Lantas, seperti apakah kejadian sebenarnya? Benarkah informasi yang selama ini beredar?

Berikut klarifikasi Dmitry Abdugafarov dan Aleksandra Kolesnikova kepada RBTH Indonesia.

RBTH Indonesia bertemu Dima dan Sasha (panggilan akrab Dmitry dan Aleksandra) di Plaza Festival, Kuningan, Jakarta. Keduanya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana mereka menghadapi situasi ini.

RBTH (R): Bisa Anda jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Anda berdua?

Aleksandra Kolesnikova (A.K.): Sebagaimana yang Anda tahu, kami kehilangan paspor. Kini kami harus pulang ke Rusia. Namun, ada beberapa masalah. Karena tiket ke Rusia sangat mahal, sulit bagi keluarga dan teman-teman kami untuk mengumpulkan uang, tapi tentu saja mereka membantu kami, mereka meminjam uang dari teman-temannya demi membantu kami. Sebetulnya, kami hanya ingin mengumpulkan sedikit uang untuk membantu keluarga dan teman-teman kami di Rusia yang juga sedang berusaha mengumpulkan uang.

R: Apa saja yang Anda lakukan untuk mengumpulkan uang?

A.K.: Kami pergi ke jalanan. Awalnya tidak ada masalah. Kami duduk di suatu tempat, kira-kira satu kilometer dari sini (Plaza Festival), orang-orang hanya berlalu-lalang, dan memberikan uang. Dalam dua jam, kami berhasil mendapatkan 400 ribu rupiah. Jadi, kami pikir ini ide yang bagus. Kami tidak merepotkan siapa pun. Jika kami melakukan ini setiap hari, kami bisa mengumpulkan jumlah yang kami butuhkan untuk membeli tiket dalam dua minggu. Namun kemudian, kami duduk di stasiun itu (Stasiun Sudirman -red.), dan secara kebetulan, beberapa orang datang menghampiri, mengambil foto kami, dan menanyai kami. Sayangnya, karena keterbatasan bahasa, mereka salah paham.

R: Apa yang mereka tanyakan dan bagian apa yang menimbulkan kesalahpahaman?

A.K.: Mereka bertanya soal kedutaan, apakah kami sudah pergi ke kedutaan, kami bilang, “Iya, kami sudah ke Kedubes Rusia, tapi mereka tidak bisa membantu masalah administratif, dan itu bukan tanggung jawab mereka.” Mereka juga bertanya, seperti, “Apakah kami sudah pergi ke imigrasi,” dan ini sangat sulit untuk kami jelaskan sehingga ada banyak orang yang salah paham.

R: Apa yang terjadi selanjutnya?

A.K.: Ketika kami pulang, seseorang ternyata sudah memublikasikan foto kami di Facebook dengan banyak informasi yang salah, bahwa kami tersesat, kami menjadi gelandangan, kami sakit, dan sebagainya. Setelah saya coba jelaskan, seperti, “Teman-teman, mohon tenang, ini cuma salah paham,” tapi publik sudah terlanjur gempar, dan semua orang sepertinya marah.

R: Apakah ini berarti Anda menolak dibantu?

A.K.: Tidak, tentu saja kami tidak menolak jika orang-orang mau membantu kami. Namun, kami pikir, jika mereka mau membuat penggalangan dana publik, ini terlalu berlebihan, ini sama sekali tidak sepadan. Ada lebih banyak orang miskin di Indonesia yang membutuhkan perhatian seperti ini, dan kenapa orang-orang tidak membahas isu itu di media sosial? Orang-orang secara kebetulan melihat kami, mungkin hanya lima menit, dan (kegemparan) ini terjadi. Kami tidak mengira situasinya akan menjadi sebesar ini. Orang-orang mengira bahwa mereka mengerti sesuatu, padahal tidak sama sekali.

Mohon dimengerti, saya tidak keberatan dengan bantuan, tapi saya ingin orang-orang paham bahwa ini bukan masalah yang terlalu serius. Kami sama sekali tidak berharap orang-orang menjadi seperti ini — mengumpulkan dana. Sebetulnya, dengan sumbangan 5.000 rupiah saja, kami sudah bisa pulang ke rumah. Sekarang, saya tidak bisa selalu membuka Facebook. Tiba-tiba ada ratusan orang yang ingin berteman dengan saya, dan ada banyak pesan masuk dari orang-orang. Mereka bertanya, “Apa kabar, bagaimana keadaanmu, dan di mana kamu tinggal?”

R: Artinya, kini Anda berdua merasa bahwa masalah justru bertambah?

A.K.: Ya, ini menimbulkan masalah bagi kami, tapi yang paling buruk, mereka menyerang kedutaan kami. Ada terlalu banyak informasi salah yang beredar internet. Seseorang bahkan bertanya ke kepada konsuler dan bertanya apakah mereka bisa membantu kami. Mereka (konsulat) bilang bisa, tapi (menurut orang yang bertanya itu) kami tidak mau pulang sekarang.

Mari saya jelaskan. Kami pergi ke kedutaan, ke konsulat. Mereka bilang, mereka bisa memberikan kami dokumen yang dibutuhkan (sebagai pengganti paspor). Dokumen itu berlaku selama sepuluh hari. Artinya, kami harus terbang tanggal 3 Agustus. Namun menurut mereka, jika kami hanya punya sedikit uang, sebaiknya kami membeli tiket pada hari lain karena harga tiket pada keesokan harinya adalah 800 dolar AS. Jika kami beli tiket tanggal 10 Agustus, harganya hanya 600 dolar AS, dan itulah yang paling murah.

Bagi Dima (Dmitry), dia harus mendapatkan tiket termurah dengan penerbangan tanpa keluar dari zona transit. Jadi, jika kami membuat dokumen pada hari itu, tanggal 25 Juli, dokumen itu akan kadaluarsa pada tanggal 10 Agustus. Karena itulah, konsuler mengatakan bahwa kami bisa datang kembali ke sana sekali lagi dan mereka akan buatkan dokumen ini.

R: Ada rumor bahwa Anda berdua menolak untuk menghubungi keluarga Anda dan hal itu menimbulkan kejanggalan bagi beberapa pihak. Apa tanggapan Anda?

A.K.: Ketika konsuler bertanya apakah kami mau menelepon keluarga kami, kami bilang, “Tidak,” karena kami sudah mengabari mereka. Namun, ketika konsuler mengatakan pada orang yang menyebarkan informasi bahwa kedutaan tidak bisa membantu kami, sebenarnya — yang dimaksud konsuler adalah terkait dokumen, bukan soal uang. Jika Anda berharap mereka membantu soal barang-barang kami yang hilang — ini jelas bukan tanggung jawab mereka. Memang, ada beberapa pengecualian, misalnya ada situasi yang membahayakan hidup si warga negara terkait — ada bantuan dana, seperti jika ada bencana tsunami, atau situasi darurat di negara itu. Namun, apa yang kami alami adalah sesuatu yang wajar terjadi.

Hitchhiking atau menumpang kendaraan adalah cara yang paling murah untuk bepergian bagi para wisatawan dengan anggaran terbatas.

Ada banyak orang (turis) yang kehilangan uang di Bali, misalnya. Hanya saja, mereka biasanya sudah punya tiket balik. Lalu, kenapa kami tidak punya tiket balik? Ini karena kami tidak berencana pulang dengan terbang langsung ke Rusia. Kami berencana pergi ke Kuala Lumpur dulu, dengan penerbangan murah, dan setelah itu kembali ke Rusia dengan jalur darat, sama seperti ketika kami tiba di Indonesia, dengan hitchhiking. Sebetulnya masalah ini sangat sederhana, tapi kini menjadi rumit.
R: Bagaimana Anda bisa kehilangan paspor Anda?

A.K.: Kejadian itu terjadi saat kami dalam perjalanan ke Nabire dari Jayapura. Kami ke sana dengan kapal. Di hari terakhir sebelum kami tiba di Nabire, kami tidur di dek kapal karena ada banyak sekali orang di dalam kapal dan udaranya sangat panas. Kami membawa semua barang beharga kami saat tidur. Kami tidur dengan memeluk tas ini, tapi Dima tidak terbangun ketika sesorang mengambil tas ini, dan tentu saja, sangat mustahil untuk menemukan siapa yang mengambilnya karena ada banyak sekali orang di kapal itu. Kami bicara pada kru kapal, tapi mereka tidak terlalu bisa bicara dalam bahasa Inggris, dan tidak bisa menanyai semua penumpang satu per satu. Bisa jadi, pencuri itu hanya mengecek tas dan mengambil apa yang ia ingin ambil dan membuang tas itu ke laut.

Setelah itu kami di Nabire, setelah setengah jam lapor ke polisi di sana, kami mendapatkan dokumen yang kami butuhkan (surat kehilangan -red.). Saat itu, yang saya punya hanya handphone, peta, dan GPS. Ketika saya melihat ke persimpangan untuk memahami di mana kami berada, tiba-tiba ada orang dengan motor yang menyambar handphone saya begitu saja, dan handphone saya pun lenyap.

R: Bagaimana Anda berdua akhirnya bisa tiba di Jakarta?

A.K.: Kami ke Jakarta dengan bantuan orang-orang baik di Indonesia. Kami ke pelabuhan dan kami menjelaskan keadaan kami. Di sana, orang-orang memanggil sang kapten, dan dia mengerti situasi kami. Ia memberikan kami tiket gratis ke Surabaya. Dia bahkan memberikan kami uang untuk bisa ke Jakarta.

Setelah tiba di Surabaya, ternyata tidak ada lagi tiket kereta yang tersedia selama seminggu. Padahal, kami sama sekali tidak bisa menunggu. Kami pun mencoba menjelaskan masalah kami kepada pihak kereta api, “Tolong kami, kami bisa duduk di lantai. Kami perlu pergi secepat mungkin.” Lalu, orang ini pun berusaha menolong kami. Dia mencoba bertanya ke orang-orang di sekitar stasiun selama satu jam, dan akhinrya, dia bilang, “Oke, kalian mendapatkan dua tiket untuk perjalanan esok hari.”

R: Setelah di Jakarta, Anda tinggal di mana?

A.K.: Kami punya teman di Jakarta. Mereka adalah teman dari temen-teman Rusia kami. Mereka sangat baik, mereka punya komunitas, mereka membuat workshop, dan membuat pakaian. Mereka juga membuat semacam proyek sosial. Dengan orang-orang inilah kini kami tinggal.

R: Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Anda ke Papua untuk melakukan riset?

A.K.: Kami ingin membuat semacam riset, tapi itu bukan seperti kami dikirim secara resmi dari universitas untuk melakukan riset. Ini hanya karena saya berkonsultasi dengan dosen saya di kampus. Saya bertanya apakah ini ide yang bagus ketika saya ke Indonesia tahun ini, dan saya ingin mengeksplorasi sesuatu yang berkaitan dengan spesialisasi saya, yaitu di bidang geografi dan turisme, dan menulis semacam artikel singkat, atau semacam catatan yang kami buat berdasarkan apa yang kami amati di Papua. Ini sama sekali bukan artikel atau penelitian ilmiah. Masalahnya, orang-orang sering kali tidak paham dengan apa yang kami lakukan. Ini dikarenakan kami tidak mengunjungi tempat-tempat yang lazim dikunjungi turis, khususnya di Papua. Di Papua, polisi cukup mencurigai kami, seperti kenapa kami ke sini, kenapa kami ke desa ini — karena tidak ada apa-apa di desa itu.

R: Bagaimana rute perjalanan Anda saat pertama kali tiba di Indonesia?

A.K.: Kami pertama kali tiba di Medan dan mengelilingi Sumatera. Kamudian, kami menyeberang ke Pulau Jawa. Kami ke Jakarta, Yogyakarta, Surabaya — mendaki Gunung Bromo. Kami kemudian ke Banjarmasin karena tujuan kami adalah Papua. Dari Balikpapan, kami ke Makassar, lalu ke Papua. Kami hanya selalu meminta penduduk setempat untuk menjelaskan pada kapten kapal untuk membawa kami ke tujuan kami. Kami telah berada di Indonesia selama hampir dua bulan. Kami tiba pertama kali pada 14 April.

Papua adalah destinasi terakhir kami. Setelah ini, kalau pun kejadian ini tak terjadi, kami akan pulang dengan rute yang sama seperti kami ke sini.

R: Apakah Anda pikir Anda akan berhasil mengumpulkan uang yang dibutuhkan dalam waktu singkat ini?

A.K.: Tentu saja, kami pasti akan berhasil. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Harga tiketnya memang mahal, tapi bukan berarti tak bisa kami beli. Selain itu, keluarga kami juga membantu.

Kami ingin mencari bantuan karena keluarga dan teman-teman kami pun mencari pinjaman dari teman-temannya. Namun, jika tidak ada yang membantu kami di sini pun, kami pasti akan tetep pulang. Mereka tidak akan membiarkan kami di sini, dan pasti akan menemukan cara untuk membuat kami bisa pulang ke Rusia. Tidak perlu panik, semua baik-baik saja. Kami tidak kelaparan.

Saat ini, kami sudah mengumpulkan satu juta rupiah. Ini belum ditambah dengan bantuan dana yang akan dikirimkan orangtua kami.

R: Apakah dengan kejadian seperti ini membuat Anda kapok ke Indonesia?

A.K.: Tidak, kami pasti akan kembali ke Indonesia. Kami harus pergi ke Nabire, dan ingin mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah membantu kami di sana.

Kami sama sekali tidak menyesal ke Indonesia. Di sini, kami menemukan banyak persamaan antara Rusia dan Indonesia. Ini sangat menarik sekali. Seperti, apa yang ada di Indonesia saat ini, pernah ada di Rusia 20 tahun lalu. Namun, ada juga yang sama seperti saat ini. Selain itu, kita ternyata cukup mirip, dalam banyak hal: mentalitas, bahkan selera humor. Saat kami tiba di Indonesia, Indonesia punya “wajahnya” sendiri, benar-benar berbeda dari negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Sangat menarik.

R: Apa yang membuat Anda tertarik menjadikan Indonesia sebagai salah satu destinasi perjalanan Anda?

A.K.: Ada banyak alasan. Salah satunya, kami suka negara dengan iklim panas. Selain itu, Indonesia adalah negara yang besar, ada banyak gunung berapi, dan alam yang indah. Ini pertama kalinya kami ke Indonesia.

Di Rusia, ada beberapa petualang yang mengenalkan Indonesia lewat tulisan-tulisan yang diterbitkan di buku, bukan cuma Bali, tapi Indonesia. Ada orang Rusia yang bertualang seperti kami, dan dia menceritakan banyak hal mengenai Indonesia, hal-hal yang tak akan Anda temui dengan melakukan wisata biasa. Ada juga blogger yang banyak hal mengenai Indonesia. Dia pergi ke Indonesia tiap tahun dan memenuhi blognya dengan keindahan alam Indonesia.

R: Setelah ini, apakah Anda akan kembali mengumpulkan uang dengan mengamen?

A.K.: Tidak, kami tidak akan mengamen lagi di jalanan, kami tidak mau. Terlalu banyak orang yang salah paham dan menyebarkan rumor, dan mengatakan bahwa kami sebenarnya sudah punya paspor dan tiket gratis dari kedutaan.

Hal yang paling buruk adalah terkait kedutaan. Kedutaan tentu tidak bisa membantu semua orang, dan itu wajar. Ini sesuatu yang logis. Saya pikir, di mana-mana hampir sama. Jika Anda kehilangan paspor di Rusia, misalnya, saya pikir Kedutaan Besar RI tidak akan menggalangkan dana demi membantu Anda pulang.

Kemarin, saya kembali menulis kejadiaan ini (di Facebook -red.), dan mencoba untuk menjelaskan hal ini kembali, soal birokrasi, dan sebagainya. Mohon dipahami bahwa kedutaan kami bukannya tidak bisa membuatkan kami paspor. Mereka bisa, tapi itu butuh waktu tiga bulan.

Gelombang Tinggi Jadi Berkah Warga di Banyuwangi

Sejak ilegal fishing di tenggelamkan akhirnya ikan laut jadi melimpah ruah, dan saat terjadi gelombang besar, ikan-kan itu terbawa sampai ke pinggir pantai dan menjadi berkah bagi warga di sekitar pantai Banyuwangi dan Situbondo.

berkah ramadhan

Warga berbondong-bondong menjemput rezeki yang telah diberikan Sang Maha Kuasa. Nampak wajah riang gempira terpapar dari wajah anak-anak sampai orang tua.

Berikut ini adalah video gelombang tinggi jadi berkah warga di Banyuwangi :

Harga Daging Mahal

Sebelumnya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menghimbau warganya agar lebih variatif dalam mengolah sumber pangan dalam rangka mengsiasati harga daging sapi yang melambung tinggi di pasaran. Berikut ini adalah kutipan dari laman bisnis.com;

“Masyarakat bisa melakukan variasi terhadap sumber pangan. Misalnya mengganti daging sapi dengan daging ayam atau bisa juga beralih ke sumber pangan lainnya misalnya ikan, tempe, tahu. Jenis sumber pangan ini tidak hanya lebih terjangkau harganya tapi juga lebih sehat,” katanya saat melakukan sidak harga komoditas pangan di Pasar Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (9/6/2016).

Menurut dia, masih tingginya harga daging sapi harus disikapi bijaksana oleh masyarakat. Kondisi itu harus dihadapi masyarakat dengan mengubah pola konsumsinya. Hal itu diperlukan karena salah satu penyebab tingginya harga komoditas di pasaran adalah tingkat permintaan masyarakat yang tinggi.

Anas meminta agar pesan itu bisa diteruskan oleh tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh agama di lingkungannya masing-masing. “Ini juga saya sampaikan lewat ceramah saat shalat tarawih dari masjid ke masjid. Saya juga meminta pesan ini menjadi salah satu isi khutbah di pengajian-pengajian,” katanya.

Semua rezeki yang ada itu berasal dari Allah karena Allah adalah ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Allah memberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Firman Allah, “Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang Dia kehendaki),” (QS ar-Ra’d [13]: 26).

Subhanallah, berkah di Bulan Ramadhan.